DSC00589

Indonesia-Inggris Bentuk Dana Inovasi dan Teknologi, Perkuat Solusi Berketahanan Iklim Lintas Sektor

JAKARTA – Pemerintah Indonesia menegaskan komitmen bertransformasi menuju ekonomi hijau dan berketahanan iklim sebagai upaya menghadapi krisis iklim melalui peluncuran Innovation and Technology Fund (ITF), serta Pembaruan Dokumen Kebijakan Pembangunan Berketahanan Iklim (PBI) 2.0 dan Kajian Awal Dampak Perubahan Iklim terhadap Perpindahan Penduduk di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil di Jakarta, Selasa (2/12). “Apa yang kita lakukan hari ini merupakan penegasan arah besar pembangunan nasional Indonesia ke depan. Ini adalah sinyal kuat bahwa kita harus mempercepat langkah, karena setiap keterlambatan akan dibayar dengan biaya sosial dan ekonomi yang semakin besar,” tegas Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy dalam acara yang turut dihadiri Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono.

ITF merupakan instrumen pembiayaan katalis untuk mengurangi risiko investasi hijau sekaligus mendorong inovasi teknologi yang mendukung pembangunan berketahanan iklim, sebagai hasil kerja sama strategis Indonesia-Inggris melalui Foreign, Commonwealth & Development Office (FCDO) di bawah Program Low Carbon Development Initiative (LCDI) Fase Kedua, dan dikelola oleh Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) dengan dukungan teknis Oxford Policy Management (OPML). Indonesia menempatkan ekonomi hijau sebagai penggerak utama pembangunan, dengan target pertumbuhan 5–8 persen. Namun, kebutuhan pendanaan iklim masih menjadi tantangan besar. Untuk memenuhi komitmen dalam Enhanced dan Second NDC, Indonesia membutuhkan USD 757,6 miliar hingga 2035, sementara alokasi saat ini baru mencapai 3 persen APBN. Untuk itu, Pemerintah membuka kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, sektor swasta, akademisi, serta organisasi masyarakat sipil untuk menghadirkan inovasi teknologi hijau yang mendukung transisi rendah karbon dan berketahanan iklim, serta dapat diterapkan pada skala nasional melalui Call for Proposal ITF. Inisiatif ini diharapkan memperluas akses pembiayaan bagi teknologi hijau strategis dan mempercepat replikasi inovasi yang terbukti efektif. 

Pembaruan Kebijakan PBI 2.0 menjadi landasan ilmiah pelaksanaan agenda ketahanan iklim dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 yang fokus pada empat sektor prioritas, yakni kelautan dan pesisir, air, pertanian, dan kesehatan. Sementara itu, Kajian Awal Dampak Perubahan Iklim terhadap Perpindahan Penduduk pada Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil disusun untuk memberikan gambaran mengenai dampak perubahan iklim yang berpotensi menyebabkan penggenangan wilayah pesisir dan hilangnya pulau-pulau kecil sehingga mengakibatkan perpindahan penduduk.

Kegiatan ini menegaskan komitmen Indonesia dalam mengedepankan sinergi antara pendanaan inovatif, perencanaan berbasis sains, dan kemitraan multi-pemangku kepentingan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. “Marilah kita jadikan momentum ini sebagai penguat tekad bersama untuk mendorong inovasi dan teknologi dalam memperkuat Indonesia terhadap perubahan iklim. Ini adalah komitmen bersama, bukan hanya komitmen untuk Indonesia, bukan hanya untuk generasi kita saja, tetapi komitmen untuk dunia,” tutup Menteri Rachmat Pambudy.

DSC03044

InTex Indonesia Project Officially Launched, Accelerating Transition Toward Circular Economy in Textile Sector

The Indonesia Government through the Ministry of National Development Planning/Bappenas, officially launched the InTex Indonesia Project, an initiative that aims to accelerate the transition toward a circular textile system, on Thursday (5/11). The project, which will run from 2025 to 2027, is a collaborative effort with the United Nations Environment Programme (UNEP) funded by the Danish Government. The project aims to provide training for 200 individuals (with a minimum of 40% women), involving approximately 50 textile industry companies, as well as capacity building for 60 policymakers in policy formulation to establish a circular textile sector.

The textile sector is one of Indonesia’s priority sectors for circular economy implementation, with policy interventions outlined in the Circular Economy Roadmap and Action Plan, which have been integrated into the 2025–2029 National Medium-Term Development Plan (RPJMN).  Five priority sectors were selected based on their contribution to national GDP—through economic growth and job creation—their circularity potential, and the level of stakeholder support. In Indonesia, there are approximately 13,000 medium and large textile companies, as well as 25 million out of 60 million MSMEs engaged in micro-scale textile activities. 

Efforts to implement a circular economy in the textile sector face significant challenges, including high energy consumption, the use of hazardous chemicals, and large volumes of production and post-consumer waste. The Director of Environmental Affairs at the Ministry of National Development Planning/Bappenas, Nizhar Marizi, stated that the launch of InTex Indonesia marks an important momentum to strengthen circular economy implementation in the textile sector. Collaboration between the government, international partners, and industry players will contribute  to promoting more efficient production practices, reducing waste, and enhancing the competitiveness of Indonesia’s textile industry. He also emphasized the importance of focusing on MSMEs, which contribute around 61.9% of national GDP and 97% of total employment.

The InTex Indonesia Project is implemented by a consortium comprising the Resilience Development Initiative (RDI), the National Research and Innovation Agency (BRIN), and James Cook University. The project focuses on developing industry support—particularly for small and medium enterprises—in adopting circular economy practices through LCA application, eco-design, and sustainable production strategies. InTex Indonesia is also designed to strengthen evidence-based policymaking through training, workshops, and facilitation of inter-ministerial and institutional coordination.

InTex Indonesia activities will be carried out across six regions with high textile industry concentration: Jakarta and surrounding areas (including Cikarang), Purwakarta (including Majalaya), Bandung, Semarang, Solo, and Surabaya (including Sidoarjo). These locations were selected to reflect the diverse characteristics of Indonesia’s textile industry and are expected to serve as models for nationwide implementation. Moving forward, InTex will collaborate with relevant ministries, agencies, and stakeholders to support MSME capacity-building and advance textile circularity in Indonesia. 

25082025_PIB_Forum Nasional_-141

Bappenas Dorong Integrasi Aksi Iklim Nasional dan Daerah pada Pekan Iklim Bali 2025

Denpasar, 25 Agustus 2025 – Kementerian PPN/Bappenas menegaskan kembali komitmennya dalam mendorong pembangunan rendah karbon dan ekonomi hijau melalui partisipasi aktif dalam Forum Nasional Iklim pada Pekan Iklim Bali 2025 yang diselenggarakan oleh WRI Indonesia dan Koalisi Bali Emisi Nol Bersih. Acara yang berlangsung pada Senin, 25 Agustus 2025 ini menjadi forum strategis untuk membahas peran pemerintah pusat dan daerah dalam memperkuat aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas, Leonardo A.A. Teguh Sambodo, hadir sebagai main panel speaker. Dalam paparannya, Deputi Teguh menekankan pentingnya kepemimpinan daerah dalam mendukung target nasional penurunan emisi gas rumah kaca (GRK). “UNFCCC telah mengingatkan bahwa adaptasi dan mitigasi adalah hak sekaligus tanggung jawab kita bersama. Oleh karena itu, indikator penurunan intensitas emisi GRK yang tercantum dalam RPJPN 2025–2045 harus diturunkan dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah,” ujarnya.

Deputi Teguh juga menyoroti bahwa tujuh provinsi saat ini telah menggunakan AKSARA, platform perencanaan aksi iklim terintegrasi, untuk menghitung dan melaporkan upaya pengurangan emisi. Ia menambahkan bahwa skema seperti ecological fiscal transfer, yang telah diadopsi oleh 38 pemerintah daerah, menjadi contoh nyata kolaborasi lintas sektor untuk mendukung pembiayaan pembangunan ramah lingkungan.

Sementara itu, Direktur Lingkungan Hidup Bappenas, Nizhar Marizi, tampil dalam sesi tematik mengenai strategi penganggaran adaptasi perubahan iklim. Ia menekankan bahwa upaya adaptasi membutuhkan langkah yang lebih kompleks dibanding mitigasi, mengingat dampaknya yang langsung dirasakan masyarakat. “Perubahan iklim sudah nyata terlihat, dari kenaikan permukaan laut di pesisir Demak hingga peningkatan kasus penyakit, seperti demam berdarah dengue (DBD). Oleh karena itu, penganggaran adaptasi perlu lebih terintegrasi sebagai Nomenklatur Perencanaan Pembangunan dan Keuangan Daerah,” jelasnya. Ia juga menegaskan perlunya memperkuat sistem tagging, verifikasi, dan validasi agar aksi adaptasi benar-benar tercermin dalam perencanaan dan anggaran. Terakhir, Direktur Nizhar juga mengumumkan rencana pembentukan Laboratorium Pembangunan Berketahanan Iklim sebagai ruang pembelajaran upaya adaptasi di sektor pesisir yang bisa direplikasi ke wilayah lain. Pekan Iklim Bali 2025 menghadirkan beragam tokoh nasional dan daerah, termasuk Gubernur Sumatera, Mahyeldi Ansharullah  Barat, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan, Muhammad Ilyas, dan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah NTT, Flouri Rita Wuisa. Forum ini menekankan peran kearifan lokal, ekonomi kerakyatan, dan energi terbarukan daerah sebagai pilar transisi menuju emisi nol bersih.

Melalui partisipasi aktifnya, Bappenas menegaskan komitmen untuk menjembatani keselarasan antara kebijakan pengelolaan perubahan iklim di tingkat nasional dan aksi daerah Sinergi ini diharapkan mempercepat transformasi menuju Indonesia yang tangguh, rendah karbon, dan berdaya saing global.

DSC03415

Indonesia Meluncurkan Program Business Matchmaking untuk Mengarahkan Investasi bagi Ekosistem Plastik Sirkular

Senin, 20 Oktober 2025

JAKARTA – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas secara resmi meluncurkan Program Business Matchmaking untuk mempercepat transisi sektor plastik menuju model yang lebih berkelanjutan dengan penerapan prinsip ekonomi sirkular. Program ini merupakan bagian dari Proyek Plastics Circular Investment Initiative (PCII) yang didukung oleh Global Green Growth Institute (GGGI).

Agenda peluncuran ini dibuka dengan sambutan oleh Nizhar Marizi, selaku Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas. “Ekonomi sirkular telah diintegrasikan ke dalam RPJMN 2025-2029,sebagai bagian dari prioritas nasional yang kedua dalam rangka mencapai target-target ekonomi hijau nasional. Untuk mengakselerasi transisi menuju ekonomi sirkular,  sesuai dengan Peta Jalan dan Rencana Aksi Ekonomi Sirkular, kegiatan PCII dilaksanakan guna mengembangkan aspek investasi dan pendanaan inovatif yang berfokus pada optimalisasi  potensi sektor plastik daur ulang dan bioplastik di Indonesia. Ke depannya, diperlukan peningkatan kualitas bahan baku lokal, operasionalisasi fasilitas pengelolaan sampah, pengembangan inovasi pendanaan dan inisiatif fiskalnya, harmonisasi kebijakan antara Kementerian/Lembaga, serta pengembangan standardisasi produk ramah lingkungan. ”, tutur Pak Nizhar Marizi.

“Peserta program ini kami harapkan akan memperoleh pemahaman dan kemampuan yang cukup untuk mengembangkan proyek inovatif yang dapat menjawab tantangan infrastruktur sektor plastik daur ulang dan bioplastik,  sesuai dengan regulasi dan kebijakan Pemerintah Indonesia di sektor ini. Program ini merupakan upaya dukungan GGGI untuk memobilisasi investasi bagi ekosistem plastik sirkular,” ujar Vidya Fauzianti, GGGI Indonesia Deputy Country Representative.

Justin Wiganda, Wakil Ketua Umum Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI), dalam sambutannya juga menekankan, “Kami berkomitmen untuk memastikan ekosistem plastik Indonesia mampu bersaing di pasar global. ADUPI percaya akan banyak peluang dan pintu kemajuan yang terbuka melalui kolaborasi lintas pihak, yang pada akhirnya akan memperkuat ekonomi sirkular di Indonesia.”

Selaras dengan ini, Inge Setyawati, Direktur PT Intera Lestari Polimer, menyampaikan, “Kami percaya, melalui Business Matchmaking Program ini, percepatan pertumbuhan industri bioplastik nasional dan pengembangan industri plastik berkelanjutan dapat semakin terwujud.”

Setelah peluncuran, acara kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi yang  membahas mengenai Arah Kebijakan EPR di Indonesia dan Kesiapan Industri dan Peluang Investasi dalam Rangka Optimasi Potensi Plastik Daur Ulang dan Bioplastik di Indonesia. Diskusi tersebut menghadirkan dua narasumber ahli, yakni Eka Hilda dari Direktorat Pengurangan Sampah dan Pengembangan Ekonomi Sirkular, Kementerian Lingkungan Hidup yang membahas Sosialisasi Permen LHK No. 75 Tahun 2019 tentang MekanismePelaporan dan Rencana EPR ke depan serta Muhammad Abdul Aziz Ramdhani dari Pusat Industri Hijau, Kementerian Perindustrian yang memaparkan Standar Industri Hijau untuk Plastik dan Bioplastik dalam Rangka Persiapan Penerapan EPR dan Ekonomi Sirkular.

3S4A5413-2

Bappenas Luncurkan PAGE Indonesia Fase 2: Akselerasi Ekonomi Sirkular Menuju Pembangunan Hijau

Kementerian PPN/Bappenas resmi meluncurkan Partnership for Action on Green Economy (PAGE) Indonesia Fase 2 dengan tema “Accelerating Circular Economy Implementation through Climate & Finance Pathways” pada Rabu (8/10). Program ini merupakan kelanjutan dari PAGE Fase 1 yang telah berlangsung pada tahun 2018-2024. PAGE Fase 2 merupakan kerja sama  lima lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)  yang tergabung dalam Partnership for Action on Green Economy (PAGE), yaitu UNDP, UNEP, ILO, UNIDO, dan UNITAR.

 

Dalam sambutannya, Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Leonardo A.A. Teguh Sambodo, menekankan pentingnya transisi menuju ekonomi sirkular untuk mendukung pertumbuhan hijau dan ketahanan iklim nasional. “Pendekatan ini tidak hanya mengurangi tekanan terhadap sumber daya alam, tetapi juga membuka peluang pusat pertumbuhan ekonomi baru dan memperkuat daya saing industri nasional.”

 

Dalam PAGE Fase 2, intervensi kelima lembaga PBB aliansi PAGE akan berfokus pada percepatan operasionalisasi kebijakan ekonomi sirkular melalui integrasi dengan kebijakan iklim, peningkatan kapasitas untuk tenaga kerja hijau di sektor elektronik dan konstruksi, penguatan kesiapan industri konstruksi dan elektronik untuk menerapkan ekonomi sirkular, penguatan edukasi implementasi ekonomi sirkular di masyarakat dengan pelibatan institusi pendidikan, , serta mobilisasi pembiayaan berkelanjutan untuk mendukung implementasi ekonomi sirkular.

 

Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional (RAN) Ekonomi Sirkular 2025-2045 sendiri telah dirilis pada bulan Juli 2024 sebagai salah satu puncak acara Green Economy Expo di Jakarta. Kerangka kebijakan Peta Jalan dan RAN Ekonomi Sirkular tersebut juga telah diterjemahkan dalam rencana pembangunan jangka panjang maupun menengah. Dibutuhkan dukungan berbagai pihak untuk mengembangkan enabler transisi dari ekonomi linear menuju ekonomi sirkular. Untuk itu, selain sebagai pendukung transisi tersebut, PAGE Fase II diharapkan dapat memperkuat keterkaitan antara ekonomi sirkular dan aksi iklim, sekaligus mempererat kerja sama lintas lembaga dalam merancang strategi transisi ekonomi sirkular dan berkontribusi terhadap pencapaian target-target nasional.

Photo 2

Indonesia-Inggris Dorong Pembiayaan Inovatif untuk Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim

JAKARTA – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian PPN/Bappenas bersama Pemerintah Inggris melalui Foreign, Commonwealth & Development Office (FCDO) yang didukung oleh Oxford Policy Management(OPM) dan International NGO Forum on Indonesian Development (INFID), menyelenggarakan Forum Dialog Multipihak Nasional–Daerah: Akselerasi Implementasi dan Pembiayaan Pembangunan Rendah Karbon 2025–2029 di Jakarta, Jumat (17/10).

Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim (PRKBI) merupakan salah satu pilar utama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, khususnya dalam mencapai target penurunan intensitas emisi gas rumah kaca dan Net Zero Emissions 2060. Melalui program Low Carbon Development Indonesia (LCDI), pemerintah bersama mitra pembangunan mendorong integrasi kebijakan rendah karbon ke dalam perencanaan pembangunan jangka panjang dan menengah di tingkat nasional maupun daerah.

“Melalui forum ini kita meneguhkan komitmen untuk menjadikan pembangunan rendah karbon dan berketahanan iklim sebagai pilar utama transformasi menuju ekonomi hijau, kesejahteraan masyarakat, dan juga ketahanan bangsa di masa depan. Sejak RPJMN 2020-2024, hingga diperkuat dalam RPJPN 2025-2045, Indonesia telah menempatkan transisi menuju Net Zero Emission di tahun 2060 atau lebih cepat sebagai fondasi utama menuju Indonesia Maju 2045,” ujar Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Nizhar Marizi.

Rangkaian dialog multipihak yang telah diselenggarakan di Sumatera Utara dan Maluku mewakili penguatan kolaborasi antara pemerintah daerah, legislatif, dan masyarakat sipil menuju pembangunan rendah karbon. Sumatera Utara menghadapi tantangan emisi tinggi, tetapi memiliki potensi besar dari energi terbarukan dan kawasan hutan. Sementara itu, Maluku dengan basis ekonomi kelautannya menawarkan peluang pengelolaan pesisir dan energi bersih untuk mendukung kesejahteraan masyarakat. Kedua dialog daerah tersebut menegaskan bahwa keterlibatan legislatif daerah dan skema pembiayaan yang solid akan mendukung PRKBI sebagai bagian dari blueprint pembangunan daerah.

Forum ini diharapkan dapat mewujudkan agenda pembangunan rendah karbon nasional dan implementasinya di daerah, didukung oleh konsistensi kebijakan, kolaborasi lintas sektor, serta mekanisme pembiayaan yang inovatif, inklusif, dan berkelanjutan. “Keberhasilan pembangunan rendah karbon memerlukan kolaborasi lintas pihak yang berkelanjutan. Dengan sinergi dan komitmen bersama, setiap rencana dan investasi pembangunan akan memberi kontribusi nyata bagi target nasional dan juga komitmen global kita dalam menghadapi perubahan iklim,” tutup Direktur Nizhar.

Photo 1

Teguhkan Komitmen Capai NZE, Maluku Terapkan Pembangunan Rendah Karbon Berketahanan Iklim

AMBON – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian PPN/Bappenas bersama Pemerintah Inggris melalui Foreign, Commonwealth & Development Office (FCDO) yang didukung oleh Oxford Policy Management (OPM) dan International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) menggelar forum strategis yang mewadahi para pemangku kepentingan untuk memperkuat komitmen bersama menuju transformasi rendah karbon di wilayah Kepulauan Maluku. “Dialog kebijakan ini menjadi momentum penting untuk mempercepat implementasi PRKBI. Maluku memiliki posisi strategis sebagai provinsi kepulauan dengan potensi besar dalam energi baru terbarukan dan sumber daya kelautan. Melalui kolaborasi multipihak ini, kami optimis bahwa Maluku dapat menjadi model implementasi PRKBI yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo A. A. Teguh Sambodo dalam Dialog Kebijakan bertajuk “Memperkuat Kolaborasi Multipihak dalam Akselerasi Pembangunan Rendah Karbon Berketahanan Iklim (PRKBI)” di Ambon, Maluku, Selasa (16/9).

Maluku dikenal sebagai lumbung ikan nasional dengan subsektor perikanan yang menyumbang 58 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi. Sekitar 87 persen penduduk Maluku bergantung pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, dengan wilayah Maluku Tengah dan Seram sebagai pusat produksi unggulan. Sebagai bagian dari Wilayah Pengelolaan Perikanan RI 714, provinsi ini kaya akan sumber daya strategis bernilai ekonomi tinggi yang juga berpotensi menciptakan banyak lapangan kerja. Provinsi ini berkontribusi tinggi dalam penyerapan karbon dengan luas tutupan hutan seluas 3.077.900 hektare dan kekayaan ekosistem karbon biru (blue carbon) seluas 1.210.192 hektare yang mencakup ekosistem mangrove, lamun, dan terumbu karang.

Kegiatan yang berlangsung pada 15-16 September 2025 ini juga menjadi forum audiensi dengan DPRD dan Pemerintah Daerah Provinsi Maluku yang membahas peran strategis lembaga legislatif daerah dalam mendukung transformasi rendah karbon, yang sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi daerah. Berdasarkan Provincial Context Assessment for LCDI, implementasi Pembangunan Rendah Karbon (PRK) di Maluku masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari kerangka kebijakan yang terbatas hingga partisipasi pemangku kepentingan yang belum optimal. Namun, hal ini juga membuka peluang besar untuk memperkuat fondasi, tata kelola, dan kapasitas, sehingga PRK dapat lebih inklusif dan berkelanjutan.

Dialog ini diharapkan dapat menjalin sinergi multipihak, terutama pelaku usaha, masyarakat sipil, khususnya organisasi perempuan dan masyarakat adat, serta tokoh agama dalam mendorong percepatan PRKBI di Maluku. “Integrasi agenda PRKBI dalam perencanaan daerah bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan strategi pembangunan jangka panjang. Maluku dengan target pengurangan emisi 60,93% pada 2030 dapat menjadi model bagi provinsi lain dalam mencapai target Net Zero Emissions 2060 yang sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi daerah,” tutup Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Nizhar Marizi.

_1080938

Perkuat Kolaborasi Multipihak, Sumatera Utara Dorong Pembangunan Rendah Karbon Berketahanan Iklim

Medan 28 Agustus 2025 – Dialog kebijakan bertajuk “Memperkuat Kolaborasi Multipihak dalam Akselerasi Pembangunan Rendah Karbon dan Berketahanan Iklim (PRKBI)” mempertemukan pemerintah pusat, pemerintah daerah, DPRD Provinsi, akademisi, masyarakat sipil, serta sektor swasta untuk memperkuat komitmen bersama menuju transformasi pembangunan hijau. Forum yang digelar pada 27–28 Agustus 2025 ini merupakan bagian dari rangkaian implementasi program Low Carbon Development Initiative (LCDI), kolaborasi antara Kementerian PPN/Bappenas dan Pemerintah Inggris melalui Foreign, Commonwealth & Development Office (FCDO).

“Transisi menuju pembangunan rendah karbon tidak akan tercapai tanpa dukungan politik, kebijakan yang tepat, dan partisipasi multipihak. Karena itu, DPRD, pemerintah daerah, dan mitra pembangunan harus bergerak bersama agar agenda PRKBI dapat benar-benar diintegrasikan dalam dokumen perencanaan dan penganggaran daerah,” ujar Leonardo A.A. Teguh Sambodo, Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas.

Rangkaian kegiatan penguatan kolaborasi diawali audiensi dengan DPRD Sumatera Utara pada 27 Agustus 2025 yang menekankan pentingnya peran legislatif dalam memperkuat agenda PRKBI di tingkat daerah. Tanpa komitmen politik dari parlemen daerah, transformasi rendah karbon sulit terwujud secara berkelanjutan. Oleh karena itu, sinergi erat antara legislatif dan eksekutif menjadi landasan penting bagi percepatan pembangunan hijau di Sumatera Utara.

“Dialog ini bukan sekadar ruang diskusi, tetapi panggung kolaborasi lintas sektor untuk menjawab tantangan iklim, lingkungan, dan ketimpangan sosial yang semakin kompleks. DPRD Sumut siap menjalankan tiga fungsi utama, regulating, budgeting, dan controlling untuk mendorong transformasi pembangunan rendah karbon berketahanan iklim yang adil, inklusif, dan berpihak pada kelompok rentan,” ujar Dr. Sutarto, M.Si, Wakil Ketua DPRD Sumatera Utara.

“Integrasi agenda rendah karbon dalam perencanaan daerah bukan hanya kewajiban administratif, melainkan strategi pembangunan jangka panjang. Dengan memasukkan prinsip PRKBI ke dalam RPJMD, pemerintah daerah dapat lebih siap menghadapi dampak risiko iklim sekaligus membuka peluang ekonomi hijau,” jelas Nizhar Marizi, Direktur Lingkungan Hidup Bappenas.

“Melalui forum kebijakan ini, saya berharap lahir rekomendasi kebijakan yang nantinya menjadi program dan kegiatan yang diimplementasikan bersama dalam memperkuat kolaborasi multipihak untuk akselerasi pembangunan rendah karbon,” ujar Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setdaprov Sumut.

Rangkaian dialog kebijakan tersebut diakhiri dengan penghimpunan masukan peserta yang akan dirumuskan menjadi rekomendasi kebijakan daerah. Hasil ini kemudian akan ditindaklanjuti oleh INFID selaku mitra LCDI untuk memperkuat implementasi PRKBI di Sumatera Utara, sejalan dengan target nasional penurunan emisi GRK sebesar 51,51% pada 2045 dan pencapaian Emisi Nol Bersih pada 2060.

_1090003
Photo 5
3S4A0483

Bappenas Kerja Sama dengan GGGI dan Kementerian Ekonomi dan Keuangan Republik Korea untuk Penguatan Kapasitas Daur Ulang Baterai Kendaraan Listrik

Kementerian PPN/Bappenas melalui Direktorat Lingkungan Hidup bersama Global Green Growth Institute (GGGI) Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Ekonomi dan Keuangan Republik Korea merancang Knowledge Sharing Program (KSP) yang berfokus pada kendaraan listrik, terutama baterainya. Didanai oleh Korea Eximbank (KEXIM), KSP berjudul Policy Framework for Strengthening EV Battery Recycling Capacity in Indonesia ini akan dilaksanakan oleh konsorsium yang terdiri dari Korea Testing Laboratory, Hyundai Research Institute Co., Ltd. dan Jeju TechnoPark (“Korea Testing Laboratory Consortium”). Proyek yang akan berlangsung hingga bulan Agustus 2025 ini diawali dengan launch seminar yang dilaksanakan di Kantor Kementerian PPN/Bappenas pada Rabu (12/3) lalu. Proyek ini akan menjalankan amanat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJPN) 2025-2045 dalam melaksanakan kebijakan ekonomi sirkular yang bertujuan untuk menciptakan rantai nilai daur ulang baterai kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) yang berkelanjutan, selaras dengan Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional Ekonomi Sirkular Indonesia 2025-2045.

Agenda seminar dibuka dengan sambutan kunci oleh Sekretaris Kementerian PPN/Sekretaris Utama Bappenas, Ibu Teni Widuriyanti, yang menekankan manfaat penggunaan kendaraan listrik di Indonesia. “Penggunaan kendaraan listrik secara luas membawa tiga manfaat utama bagi Indonesia, yakni menggerakkan pertumbuhan ekonomi, menciptakan jutaan lapangan pekerjaan hijau, dan mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan. Inilah yang kami sebut sebagai triple win,” ujar Sesmen/Sestama Teni.

Indonesia telah mencatatkan peningkatan pesat dalam penggunaan kendaraan listrik. Hanya pada tahun 2023, jumlah kendaraan listrik di Indonesia meningkat 179% dibandingkan tahun sebelumnya. Lebih lanjut, Pemerintah juga menargetkan penggunaan satu juta unit kendaraan listrik pada tahun 2035 yang diproyeksikan dapat menghemat sekitar 12,5 juta barel minyak dan mengurangi emisi CO2 hingga 4,6 juta ton.

Proyek di bawah KSP ini menjadi salah satu upaya nyata untuk mengintegrasikan ekonomi sirkular dalam pengelolaan baterai kendaraan listrik yang juga sejalan dengan kerangka Ekonomi Hijau. Indonesia telah mengadopsi strategi Ekonomi Hijau dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 yang kemudian diturunkan ke dalam  Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Strategi ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil serta mempercepat pencapaian netralitas karbon. Selain itu, proyek KSP ini diharapkan dapat menyusun kebijakan yang komprehensif dalam pengelolaan daur ulang baterai kendaraan listrik melalui analisis mendalam terhadap praktik terbaik dari Korea dan negara-negara lain. “Pengembangan ekosistem sirkular untuk baterai kendaraan listrik merupakan elemen kunci dalam menutup rantai nilai yang berkelanjutan,” tambah Sesmen Teni.

Seminar ini juga menjadi ajang penandatanganan Implementation Agreement KSP antara pihak Indonesia, Korea, dan GGGI Indonesia. Selain melakukan kick-off kegiatan berupa seminar, para delegasi Republik Korea tersebut juga mengunjungi berbagai kementerian/lembaga terkait lainnya untuk mengumpulkan data dan informasi yang dapat menunjang pelaksanaan proyek ke depannya.

3S4A0541
3S4A0556
3S4A0621
3S4A0556
3S4A0636
ROM_7721

Bappenas Gelar Dialog Kebijakan Kendaraan Listrik untuk Akselerasi Transformasi Ekonomi Hijau

Kementerian PPN/Bappenas menggelar Dialog Kebijakan Kendaraan Listrik untuk Akselerasi Transformasi Ekonomi Hijau di Jakarta (20/2). Acara ini bertujuan untuk mendiskusikan strategi percepatan adopsi kendaraan listrik dalam mendukung transisi menuju ekonomi hijau dan pencapaian target pembangunan berkelanjutan. Kegiatan ini didukung oleh Partnership for Action on Green Economy (PAGE) Indonesia melalui UNDP, UNIDO, dan UNITAR serta melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk kementerian/lembaga, akademisi, sektor industri, dan mitra pembangunan.

Dalam sesi pembukaan, Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Leonardo A.A. Teguh Sambodo, menekankan pentingnya kebijakan dan strategi nasional dalam mempercepat adopsi kendaraan listrik guna mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK). Sektor transportasi, yang berkontribusi hingga 21,85% dari total emisi GRK sektor energi nasional pada tahun 2022, menjadi salah satu sektor prioritas dalam upaya menekan emisi GRK. “Indonesia telah merumuskan Indeks Ekonomi Hijau sebagai alat ukur progres transformasi ekonomi hijau, dengan target peningkatan skor dari 59,17 pada 2020 menjadi 90,65 pada tahun 2045. Studi PAGE Indonesia menunjukkan bahwa adopsi kendaraan listrik dapat meningkatkan capaian indeks ekonomi hijau, terutama jika didukung oleh manufaktur dalam negeri,” ujar Deputi Teguh.

Dialog kebijakan ini dibagi menjadi dua sesi panel diskusi. Sesi panel diskusi pertama membahas mengenai Rekomendasi Kebijakan Nasional Menuju Transisi Kendaraan Listrik di Indonesia dan menghadirkan empat narasumber ahli, yaitu perwakilan dari Direktorat Teknik dan Lingkungan, Kementerian ESDM, Direktur Center of Reform on Economics Indonesia, Direktur PT Life Cycle Indonesia dan Tenaga Ahli dari ILO. Sesi ini juga menghadirkan penanggap, yakni perwakilan dari Direktorat Ketenagakerjaan, Kementerian PPN/Bappenas. Jika panel diskusi pertama menitikberatkan pada pandangan nasional mengenai kebijakan kendaraan listrik, sesi panel diskusi kedua berfokus pada perspektif global dengan tema Driving Change: A Global Policy Perspective on the Future of Electric Vehicle. Sesi ini kembali menghadirkan empat narasumber internasional, yaitu Regional Energy Specialist Sustainable Energy Hub Bureau for Policy and Program Support Global Policy Network dari UNDP, Technical Officer for Just Energy Transition dari ILO, Industrial Development Officer Energy System and Industry Decarbonization Unit dari UNIDO dan Programme Officer Sustainable Mobility Unit dari UNEP. Terdapat dua penanggap pada sesi kedua ini, yakni Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas dan Ketua Center for Sustainability and Waste Management dari Universitas Indonesia. Dialog kebijakan ini diharapkan mampu mendorong lahirnya kebijakan yang lebih konkret dalam mengembangkan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia guna mendukung pembangunan rendah karbon dan ekonomi hijau yang berkelanjutan.

ROM_7864
ROM_7843
ROM_8268